• [SALAH] Seorang Ibu Lahirkan 18 Bayi Kembar

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 09/09/2019

    Berita

    Beredar gambar dari akun yang mengatasnamakan Ustaz Abdul Somad Batubara (fb.com/ustadabdulsomadbatubara) yang diberi narasi :

    “Kebesaran ALLAH SWT”

    dan narasi dalam gambar :

    “KEBESARA ALLAH SWT
    MELAHIRKAN 18 ANAK”

    Hasil Cek Fakta

    Gambar Ibu Hamil:
    Pencarian gambar terbalik di Yandex menemukan bahwa gambar perempuan hamil di unggahan ini berasal dari situs komunitas online untuk artis, fotografer, desainer dan lainnya pada bulan Agustus 2015.
    Gambar tersebut telah dimanipulasi secara digital untuk membuat perut perempuan hamil tersebut terlihat jauh lebih besar.

    Gambar Lelaki dan Bayi:
    Pencarian gambar terbalik di Google menemukan bahwa gambar laki-laki yang mengenakan seragam dokter berwarna hijau tua berasal dari laman Facebook seorang dokter kandungan asal AS, Robert M Biter, yang dipasang di profil Facebooknya tertanggal 4 Agustus 2012.

    Gambar Perempuan dan Bayi-bayi berbaju biru:
    Pencarian dengan berbagai kata kunci di Google menunjukkan bahwa gambar seorang perempuan yang sedang terlentang di lantai dikelilingi oleh bayi-bayi berbaju biru diambil dari sebuah artikel yang dipublikasikan oleh situs satire World Daily News Report di tahun 2014.
    Artikel satire yang berjudul, “AS: Ibu melahirkan 17 bayi sekaligus”, bercerita tentang seorang perempuan dari Amerika Serikat yang memecahkan rekor dunia dengan melahirkan 17 bayi di sebuah rumah sakit di Indianapolis.

    Di situs World Daily News Report juga ada laman disclaimer ini yang menyatakan artikel mereka bersifat “satire” dan “fiksi”.

    Menurut situs Guinness World Record, pemegang rekor “jumlah bayi terbanyak yang dilahirkan dalam satu kelahiran dengan selamat” adalah seorang warga negara Amerika bernama Nadya Suleman yang melahirkan delapan bayi pada bulan Januari 2009.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Orang yg mengibarkan bendera Bintang Kejora di gunung Papua akhirnya ditangkap Polisi Hongkong

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 06/09/2019

    Berita

    Akun MANTAN Bojomu (fb.com/angel.smaker.71) mengunggah beberapa video ke beberapa grup dengan narasi sebagai berikut ;

    “Ternyata orang2 CIA
    tidak Ada habis Nya mengacaukan negara lain :angry:
    Foto Press di’Hongkong = Orang yg mengibarkan bendera Bintang Kejora di’gunung Papua… (Video pertama)… akhirnya ditangkap Polisi Hongkong…
    #militantjokowi
    #gwmilitantjokowi
    #pemerintahharustegas“

    Hasil Cek Fakta

    Video pertama yang menampilkan seorang pria yang ditangkap oleh polisi Hong Kong terjadi di stasiun kereta bawah tanah Hong Kong pada 31 Agustus 2019. Video itu diunggah dalam empat seri di akun Twitter antiELAB pada 1 September 2019.

    Dalam video pertama, pria tersebut berteriak mengajukan protes, “Tell me why? I want to go that way! This is Hong Kong, not China!” Video berikutnya menunjukkan bagaimana akhirnya polisi menjatuhkan pria itu ke tanah dan menggiringnya. Pria itu masih terus memprotes upaya polisi tersebut.

    Theepochtimes.com memberitakan bahwa pria tersebut bernama Martin Svenningsen. Berita yang terbit pada 1 September 2019 itu diberi judul Chinese Media Spread Fake News That Western Man Arrested in Hong Kong Is CIA Agent.

    Epoch Times juga menyebutkan tambahan identitas lain, yakni label Sveriges Radio di kartu pers yang ditemukan. Ketika ditelusuri, Sveriges Radio merupakan perusahaan penyiaran radio nasional yang beraktivitas di Swedia. Mengutip situs resmi sverigesradio.se, Svenningsen pernah menduduki posisi sebagai produser di P4 Extra di Stockholm.

    Tim CekFakta Tempo menelusuri apakah pria dalam video pengibaran bendera Bintang Kejora adalah orang yang sama dengan pria dalam video pertama dan apakah kedua video ini saling terkait.

    Tim CekFakta Tempo mendapatkan video ini merupakan potongan dari sebuah video kampanye yang berjudul “Climb for West Papua-Facing Your Fear” yang diunggah oleh akun Free West Papua Campaign Australia di Facebook pada 24 Mei 2017.

    Video versi asli berdurasi 10 menit 50 detik dan tidak terjadi di Papua, melainkan di Sydney, Australia. Video tersebut diproduksi sebagai upaya solidaritas terhadap orang-orang Papua Barat.

    Video itu berkisah tentang seorang manajer sebuah hotel di Sydney, Jake Toivonen, yang punya fobia terhadap ketinggian. Namun, demi menyatakan solidaritas terhadap orang-orang Papua Barat, Toivonen memutuskan untuk menghadapi ketakutannya secara langsung.

    Dengan bantuan ahli panjat tebing, Cam Leadle, Toivonen mendaki tebing Sweet Dream di Blue Mountains, Sydney. Dukungan Toivonen pun tidak berhenti di situ. Dia dengan bangga mengangkat bendera Bintang Kejora di ketinggian 180 meter.

    Jadi kesimpulannya, berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, pengibaran bendera Bintang Kejora oleh seorang warga negara asing dalam video kedua adalah bentuk solidaritas terhadap Papua Barat. Lokasinya pun di Sydney, Australia, bukan di Papua. Pria ini juga bukan orang yang sama dengan pria yang ditangkap oleh polisi Hong Kong dalam video pertama.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] MK sudah mulai insyaf dan mengakui kesalahannya. Insyaallah Prabowo-Sandi akan dilantik bulan Oktober 2019 nanti

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 06/09/2019

    Berita

    Sebuah video diunggah oleh akun Tajuddin Hasyim (fb.com/tajuddin.tosiba) dengan narasi sebagai berikut :

    “MK sdh mulai insaf, dan mengakui kesalahannya. in syaa Allah… Prabowo Sandi akan dilantik bulan Oktober 2019 nanti. Aamiin.
    #PrabowoSandiRI1“

    Hasil Cek Fakta

    Dari pencarian , Tim CekFakta Tempo menemukan satu video yang sama dengan yang diunggah akun Tajuddin Hasyim, yakni video dengan judul “Ketua MK Minta Maaf Atas Penangkapan Hakim MK oleh KPK”. Video ini dipublikasikan pada 26 Januari 2017.

    Dalam video itu, Ketua MK saat itu, Arief Hidayat, memang meminta maaf kepada publik atas terjadinya penangkapan salah seorang hakim MK oleh KPK. “Saya memohon ampun pada Allah dan memohon maaf pada bangsa ini karena Mahkamah telah melakukan kesalahan lagi meskipun itu personal,” kata Arief.

    Hakim MK yang ditangkap KPK saat itu adalah Patrialis Akbar. KPK menangkap Patrialis Akbar setelah melakukan operasi tangkap tangan yang berlangsung antara Rabu (25/1/2017) malam hingga Kamis (26/1/2017) dini hari. “Sebelas orang diamankan dalam kegiatan operasi tangkap tangan pada Rabu, 25 Januari 2017,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers di Gedung KPK, Kamis malam.

    Dia terlibat dalam kasus korupsi suap terkait permohonan uji materi perkara di MK. Awalnya, Patrialis diduga menerima hadiah dalam bentuk mata uang asing sebesar US$ 20 ribu dan 200 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp 2,1 miliar.

    Pada September 2017, Patrialis Akbar divonis 8 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi karena terbukti menerima suap terkait uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

    Dengan demikian, penangkapan hakim MK oleh KPK yang disebut dalam video tersebut tidak terkait dengan persidangan sengketa Pemilihan Presiden 2019.

    Joko Widodo-Ma’ruf Amin resmi jadi presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024. Penetapan dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta, Minggu (30/6/2019) sore.

    “Menetapkan pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 nomor urut 01, saudara Joko Widodo dan Ma’ruf Amin dengan perolehan suara sebanyak 85.607.362 suara atau 55,50 persen dari total suara sah nasional sebagai pasangan presiden dan wakil presiden terpilih periode tahun 2019-2024,” kata Ketua KPU Arief Budiman.

    “Keputusan ini ditetapkan di Jakarta 20 Juni 2019,” tambahnya, disambut tepuk tangan hadirin.

    Jokowi-Ma’ruf mengalahkan pasangan calon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mendapat suara 68.650.239 atau 44,50 persen.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Bayi kembar tiga turis Jerman hasil hubungannya dengan anjing

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 05/09/2019

    Berita

    Viral sebuah video dengan klaim sebagai berikut :

    “Oh, Tuhan, apa akhir dari dunia? Seorang Turis Jerman menempatkan kembar tiga di dunia, buah dari hubungannya dengan anjing.”

    Hasil Cek Fakta

    Semua klaim tersebut salah; video itu menunjukkan boneka bayi berbahan silikon yang diproduksi perusahaan Spanyol.

    Pencarian gambar terbalik di Yandex dan Google menggunakan tangkapan layar video dan pencarian dengan kata kunci di Google menemukan video yang sama telah diunggah di sini di Instagram pada tanggal 26 Oktober 2016.

    Video aslinya itu telah diunggah oleh Babyclon, perusahaan Spanyol yang memproduksi dan menjual boneka bayi berbahan silikon.

    Di situs resminya, Babyclon membuat laman tentang boneka itu dan judulnya, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

    “AVATAR James Cameron.
    Yang Otentik, Yang Asli, Yang Resmi
    Model AVATAR
    Resmi 20th Century Fox.

    Model yang sebelumnya bernama Berlina Vi, sekarang disebut Avatar Asleep, terinspirasi oleh Na’vi yang luar biasa dan mulia – ras humanoid yang menghuni bulan Pandora yang indah seperti yang terlihat dalam film AVATAR.”

    Avatar adalah film blockbuster terkenal garapan sutradara James Cameron pada tahun 2009 dan yang didistribusi oleh 20th Century Fox.

    Babyclon telah mengkonfirmasikan kepada AFP melalui email tanggal 27 Agustus 2019 bahwa boneka yang terlihat di video unggahan menyesatkan itu benar produk mereka.

    “Kami harus mengatakan bahwa video itu menunjukkan karya boneka hiperrealitas kami yang bernama silikon AVATAR ASLEEP, dibuat oleh Babyclon,” kata Babyclon dalam emailnya.

    “Itu adalah produk yang eksklusif. Kami adalah satu-satunya pemegang lisensi 20th Century Fox di seluruh dunia untuk membuat dan menjual produk boneka silikon ini.

    “Harga produk itu adalah 2.340USD.”

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini